Abstrak

Abstrak

Senin, September 14, 2009

Dapatkan CD "Musikalisasi Puisi Angin Pun Berbisik"!!!

HTML clipboard

"Sungguh KATA-KATA indah yang membuat saya ‘kehabisan' kata-kata." - CORNELIA AGATHA

Buku "Antologi Puisi Angin Pun Berbisik" karya sebuah keluarga Irwan Dwi Kustanto (ayah yang tunanetra), Siti Atmamiah (ibu) dan Zeffa Yurihana (anak) kini tersedia dalam bentuk CD "Musikalisasi Puisi Angin Pun Berbisik".

Seperti dalam format bukunya, CD "Musikalisasi Puisi Angin Pun Berbisik" juga menampilkan untai demi untai kata yang manis menyentuh hati; hanya saja, kali ini digenapi oleh indahnya nada dari alat musik serta pita suara para senimannya. Di samping menyanyikan beberapa puisi, duo Endah N Rhesa yang bertindak selaku produser juga melibatkan sejumlah penyanyi dan seniman terkemuka Indonesia seperti Cornelia Agatha, Maudy Koesnaedi, Drew, Andre Harihandoyo, Nino (RAN) & Raisha, dan Jodhi Yudono. Dan yang sangat istimewa, tentu penampilan artis tunanetra Dodi & Riko. Kerja besar ini didukung pula oleh Voice of Human
Rights (VHR) dan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI).

Simak ulasan singkat dari Abang Edwin tentang CD musikalisasi puisi "Angin Pun Berbisik" ini di tautan berikut:
http://www.facebook.com/l/73487;www.voiceofjakarta.com/2009/01/05/musikalisasi-puisi-%E2%80%9Cangin-pun-berbisik%E2%80%9D/

Informasi lebih lanjut, silakan kunjungi website:
Yayasan Mitra Netra
http://www.facebook.com/l/73487;www.mitranetra.or.id/puisi/
Endah N Rhesa
http://www.facebook.com/l/73487;www.endahnrhesa.com/
http://www.facebook.com/l/73487;endahnrhesa.multiply.com/journal/item/28/Dijual.._CD_MUSIKALISASI_PUISI_untuk_AMAL

Mari berseni dan menghibur diri, sambil membantu sahabat kita para tunanetra mendapatkan akses ke dunia literasi, karena hasil penjualan CD Musikalisasi Puisi "Angin Pun Berbisik" akan disumbangkan untuk mendukung Gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra yang digagas oleh Yayasan Mitra Netra.

"As juniors, we are realyy proud and honored to be in this great project which contains major names and talent… Hat's off for our Seniors that masterminds tho whole project: Endah N Rhesa. And the writers of these beautiful words… Bravo!" - DREW (Sashi, Aji, Putra,Rishanda)

"Sepi, sederhana namun jujur dalam menyuarakan hati… Senang sekali dapat terlibat dalam album musikalisasi ini." - MAUDY KOESNAEDI

"Karya seni itu seperti sebuah bongkahan energi. Tak dapat diciptakan dan tak dapat dihilangkan, hanya dapat ditemukan dan diinterpretasikan menjadi suatu bentuk yang indah… oh ya, jangan lupa kalau dia dapat berubah bentuk" - ANDRE HARIHANDOYO

"Amazing experience to work with Endah N Rhesa, thanks for let us in to this project. What a beautiful way to respect other people." - NINO (RAN) & Raisa

"Musik dan puisi adalah bahasa keindahan, ketika digabung menjelma keagungan, dan keagungan menjadi bermakna ketika dibagi untuk bersama." - JODHI YUDONO

Nah, tunggu apa lagi? Dapatkan CD Musikalisasi Puisi "Angin Pun Berbisik" sekarang!

Caranya gampang! Pesan ke:
1. Yayasan Mitra Netra
Telpon 021-7651386 (Contact Person: Abimanyu atau Hananta)
Email: humas_ymn@mitranetra.or.id
Dengan menyebutkan nama anda, jumlah pesanan, alamat lengkap, no HP/telpon
Pembayaran melalui bank transfer ke
Bank: BCA KCP Bona Indah (6080279441) atau
Bank Mandiri Cab Jkt Lebak Bulus (1010002107942)
Atas nama: Yayasan Mitra Netra

Harga CD
Rp.50.000
ditambah ongkos kirim (Utk Jkt Rp. 10.000,- Luar Jkt Rp. 15.000,-)
Harap kirimkan salinan bukti transfer ke:
Email: humas_ymn@mitranetra.or.id
Atau
Fax: 021-7655264

Pesanan akan dikirim ke alamat anda melalui kurir setelah kami menerima salinan bukti pembayaran.

2. SMS Nama, alamat lengkap serta kode pos ke Endah N Rhesa, HP 08161443431 atau email di
reiproject@yahoo.com (atau datang ke Loca Café di Kemang tiap Rabu malam. Anda bisa bertemu dengan Endah N Rhesa di sana dan beli CDnya pada mereka)

dikutip dari: http://www.facebook.com/reqs.php#/topic.php?uid=88931553658&topic=10165

Senin, Juni 29, 2009

Musikalisasi Puisi Irwan Dwikustanto

Antologi Puisi berhuruf Braile

HTML clipboard

Dikutip dari: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0801/26/hib11.html

"Saya Hanya Debu yang Melukis di Jalan itu"
"Aku hanya anak kecil, mama. Kakiku kecil, tubuhku kecil.
Aku hanya ingin mengerti semesta, dengan caraku sendiri.
Aku hanya punya mimpi..."

Jakarta - Ungkapan itu dilontarkan Zeffa Yurihana dari puisinya yang tergabung bersama ayahanda dan ibundanya, Irwan Dwi Kustanto dan Siti Atmamiah. Zeffa mengisi acara antologi "Angin pun Berbisik".

Sebuah pembacaan yang menyentuh karena puisi-puisi itu punya makna sebagai penghubung kasih antara Irwan dengan istrinya. Irwan yang tuna netra tinggal dan bekerja di Jakarta, sedangkan sang istri jauh darinya. Keduanya berkomunikasi dan terlibat dialog baik melalui short message system dan hubungan telepon yang intens dengan medium puisi-puisi mereka. Antologi ini yang kemudian disambut baik oleh berbagai lembaga mulai dari Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (KJ) Yayasan Mitra Netra (YMN) dan Voice of Human Rights (VHR) yang launchingnya digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu (23/1).

Acara yang diselenggarakan untuk peringatan Hari Braile yang jatuh pada 4 Januari lalu serta dua tahun gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra ini, memang berisikan serangkaian pertunjukan seni baik musik, teater serta pembacaan puisi. Ungkapan yang rendah hati dari Irwan pun terlantun, "Saya bukanlah penyair, Angin pun Berbisik adalah kata-kata yang saya coba kumpulkan untuk mengekspresikan perasaan, hasrat dan semua yang pernah tumpah karena cinta yang mengalir dari kekasih, keluarga, sahabat, alam dan yang mungkin tersibak oleh huruf. Saya hanya lah debu yang melukis kaki-kakinya pada jalan itu."

Ada juga musikalisasi dari Ricko yang berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung dan Dody yang adalah mahasiswa jurusan Seni Musik di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Keduanya adalah tunanetra, Dody yang didaulat sebagai penyanyinya membacakan sebuah puisi karya Irwan : Karena sepi memanggil, karena rindu menderu, karena cinta melanda.

"Saya mendapatkan kehormatan membaca puisi yang sudah lama saya tinggalkan," ujar Fajrul Rahman, penyair yang puisinya menjadi salah satu unggulan Khatulistiwa Literay Awards dan rajin membaca puisi semasa menjadi aktivis. Sejak januari 2006, Mitra Netra mengundang penulis dan penerbit bekerjasama. Gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra ini berawal dari para artis seperti Dewi Lestari, Rieke Dyah Pitaloka dan artis lainnya yang dikenal sebagai penulis. Ketika itu memang ditawarkan untuk menjadikan buku-buku yang populer di masyarakat untuk diterbitkan juga dalam huruf braile. Kini, buku "antologi pertama karya sebuah keluarga ini" diterbitkan dalam huruf Braile hingga akhirnya karya Irwan, seorang bapak yang tunanetra membuat kolaborasi puisi dengan keluarganya. Irwan juga adalah Wakil Direktur Mitra Netra, yang berpuisi dan menghasilkan buku untuk pembacanya, masyarakat biasa atau pun buku dalam bentuk huruf Braile untuk pembaca tuna netra. "Seperti angin, saya pun ingin dapat berbagi kepada sesama, untuk itu buku "angin pun berbisik" saya dedikasikan untuk mendorong dan mempercepat gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra ini," ujarnya.

Dengan jari mereka telah menjadi kan dirinya penerus gerakan perjuangan Louis Braile, seorang tunanetra asal Prancis, dengan buku mereka memandang dan merambah dunia. Dengan menulis huruf Braile, mereka juga berbagi tentang dunia, imajinasi dan cara pandang mereka.
(sihar ramses simatupang)

Review Album: Musikalisasi Puisi 'Angin pun Berbisik'

HTML clipboard

24 December 2008

Musikalisasi Puisi 'Angin Pun Berbisik'
Genre: Pop Ballad
Produser: Rhesa Aditya & Endah Widiastuti
Label: indie
Rilis: Agustus 2008

Acungan jempol patut dilayangkan kepada duet maut Rhesa Aditya dan Endah Widiastuti karena telah berhasil memproduseri sebuah album keroyokan yang istimewa bersama para seniman dengan berbagai bidang yang berbeda. Ada penyair, aktris, model, hingga tentu saja musisi. Istimewa karena selain anda dapat mendengar sumbangsih suara Cornelia Agatha, Maudy Koesnaedi, dan musisi lainnya, anda juga dapat mendengar nyanyian teman kita, Andre Harihandoyo, dalam bahasa Indonesia. Ada banyak alasan mengapa anda harus membeli album yang diberi judul
Angin Pun Berbisik.

Meski bukan urutan, namun alasan pertama yang patut anda ketahui yaitu hasil penjualan album ini 100% akan disumbangkan untuk
'Gerakan 1000 Buku untuk Tuna Netra' . Kalau anda sering nonton acara Kick Andy, tampaknya anda tidak akan terlalu asing dengan eksistensi album ini karena sejumlah pihak yang terlibat didalam album ini pernah tampil juga di acara tersebut. Alasan kedua, ada banyak musisi bertalenta disini yang ikut melakukan tindakan nyata dalam program kemanusiaan.

Alasan ketiga, syair-syair lagu disini semuanya merupakan kumpulan karya puisi dari penyandang tuna netra. Alasan ke empat, artis-artis yang menyumbangkan bakatnya dalam album ini tidak ada yang dibayar sepeserpun. Semua menyumbang kemampuan dengan niat yang tulus dan ikhlas.
Puisi-puisi yang dihadirkan dalam album ini adalah puisi pilihan dari buku antalogi puisi "Angin pun Berbisik". Karya Irwan Dwi Kustanto, Siti Atmamiah dan Zeffa. Pak Irwan adalah seorang tuna netra, sedangkan Ibu Siti dan Zeffa adalah istri dan anaknya yang bermata awas. Hal yang paling menonjol dari album ini mungkin terdapat pada liriknya. Kumpulan puisi-puisi disini kebanyakan bercerita tentang hal-hal yang sosialis.

Untuk sebuah album yang istimewa, pantas kalau dibuka oleh gitaris, penyanyi, sekaligus composer muda berbakat Andre Harihandoyo. Jika pada album yang ia rilis sebagai solo player maupun bersama Sonic People selalu ia menggunakan bahasa Inggris, kali ini ia membawakan musik dengan syair bahasa Indonesia. Warna blues masih tetap menjadi ciri khasnya dalam bermusik, termasuk ketika menambahkan kata 'Baby' dalam salah satu bait. Tidak tahu apakah dalam syair puisi aslinya juga menggunakan kata itu atau karena terpeleset oleh soul musik blues yang ia mainkan?

Selanjutnya tampil duo musisi yang sangat luar biasa kontribusinya dalam membantu masyarakat lewat musik, Endah n' Rhesa. Mereka membawakan puisi berjudul Pasar yang diiringi dengan musik ciptaan mereka. Hanya sangat disayangkan, untuk lagu secatchy ini durasinya terlalu sebentar.
Hadir pula vocalis band Tiket, Christian, namun kali ini ia tidak akan membawakan hits 'Hanya Kamu yang bisa' melainkan menyanyikan puisi yang berjudul Jakarta. Nino dari grup trio RAN yang berduet dengan Raisa menampilkan warna musik seperti yang biasa diperdengarkan oleh band-band indie seperti Ten 2 Five. OK, tidak setiap track akan dijabarkan secara panjang lebar, namun secara garis besar jika anda ingin mendengar puisi dengan pendekatan lagu, album ini memenuhi kriteria tersebut. Beberapa track turut menampilkan pembacaan puisi di sejumlah part lagu. Seperti halnya pada lagu penutup yang diperkuat oleh instrumen biola menyajikan pembacaan bait-bait puisi dimana bagian tersebut mampu memberi 'hook' pada lagunya.

Seperti yang tadi saya bilang, album ini istimewa. Selain kualitas musik dan syair-syairnya yang menggigit, juga pada kualitas rekaman yang sangat maksimal dengan budget yang minimal. Sungguh layak untuk dimiliki. Namun satu lagi hal yang cukup istimewa, kalau dari hasil yang saya simak, volume bass pada album ini tampaknya sedikit lebih besar dari standar album yang biasa kita dengar. Hal tersebut agak memberi kesan boomy di beberapa track. Apa karena produsernya seorang bassis? hahaha...

CD musikalisasi puisi dapat Anda pesan melalui :
Yayasan Mitra Netra
(021-7651386) ( www.mitranetra.or.id )
contact person 0816 1443 431
Angkringan WETIGA. Jl Langsat I No 3a/b Kebayoran Baru Jakarta Selatan (setiap hari kecuali hari Minggu jam 19.00 - 00.00)
dengan harga 50rb saja (belum termasuk ongkos kirim bagi yang di luar kota). 100% akan disumbangkan langsung ke Yayasan Mitra Netra sebagai pendanaan pengadaan BUKU BRAILLE untuk tuna netra.

Cara membeli album musikalisasi puisi
1. Sms alamat lengkap dan kode pos ke 08161443431
2. Kami akan reply dengan menuliskan total biaya kirim + harga cd (rp 50.000)
3. Transfer ke rekening Endah Widiastuti (nomor rekening saya kirim via sms) dengan menuliskan "(nama lengkap) beli cd musikalisasi puisi"
4. CD langsung dikirim setelah saya cek via online.
atau...
bisa dibeli langsung di...
Angkringan WETIGA. Jl Langsat I No 3a/b Kebayoran Baru Jakarta Selatan (setiap hari kecuali hari Minggu jam 19.00 - 00.00)
Dikutip dari: http://musisi.com/musisi.php?stateid=detailnews&idn=100

ALBUM MUSIKALISASI PUISI ANGIN PUN BERBISIK

HTML clipboard

Oleh: Abang Edwin

Pada hari Jumat tanggal 21 November 2008, saya datang ke sebuah kedai kecil yang biasa disebut "angkringan" di bilangan Kebayoran Baru. Saya datang memenuhi undangan seorang teman untuk ngobrol-ngobrol, lalu tidak lama kemudian muncul dua orang sahabat saya, duo Endah N Rhesa yang kebetulan juga datang memenuhi undangan meeting di kedai yang sama. Mereka memberikan sebuah CD Musikalisasi Puisi "Angin Pun Berbisik" yang beberapa saat lalu saya dengar memang sedang digarap oleh mereka. Karena kesibukan saya, seminggu kemudian saya baru bisa mendengarkan lagu-lagu pada CD tersebut secara utuh. Dan ini lah yang saya dapatkan:

Lagu pertama adalah lagu yang berjudul "Kali Ini Saja" yang liriknya dibuat oleh penyair Zeffa Yurihana. Lagunya sendiri dibawakan secara apik oleh seorang gitaris, komposer muda yang bernama Andre Harihandoyo. Sesuai dengan gaya bermusik Andre yang berkiblat pada musik blues, maka larik-larik puisi dari Zeffa langsung diinterpretasikan ulang oleh petikan-petikan nada blues dari gitar akustik Andre dengan sangat ekspresif dan jernih. Puisinya saja menurut saya sudah "blues" sehingga begitu Andre mendandani "Kali Ini Saja" dengan kord-kord blues maka jadilah lagu tersebut sebuah komposisi blues lengkap yang asik.

Duo Endah N Rhesa yang berperan sebagai salah satu penggagas proyek album ini mendapat kesempatan kedua dalam album ini walaupun mereka hampir ikut serta di proses pembuatan semua lagu pada album ini, tapi lagu kedua pada album ini lah yang mereka berdua ciptakan. Puisi karya penyair Zeffa Yurihana yang berjudul "Pasar" langsung berubah menjadi sebuah selimut hangat di malam yang dingin atau segelas teh es manis di sore yang panas ketika di gubah menjadi sebuah komposisi lagu yang asik dan menghanyutkan. Seperti biasa Endah N Rhesa memainkan lagu ini dengan aransemen khas akustik mereka. Denting gitar Endah disertai olah vokalnya yang tipis diiringi petikan bass Rhesa plus kord-kord bernuansa jazz melengkapi kenyamanan yang didapat pada saat mendengarkan lagu ini.

"Banyak orang bertukar barang
Sedikit orang bertukar senyum
Seorang anak ingin membeli senyum
Tapi tidak ada yang menjual senyum"

Itu potongan lirik yang diambil dari "Pasar". Lucu, witty, plus harmonisasi backing vokal yang sangat soothing.

Pengembaraan musik dalam lirik-lirik puitik belum selesai karena lagu selanjutnya membawa kita pada suasana perjalanan. Kok perjalanan? Simak lagu yang berjudul Jakarta yang didasari oleh puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul "Jakarta" dan dibawakan secara apik oleh Christian (Tiket). Komposisi yang diciptakan oleh Christian dan lalu di aransir oleh Rhesa Aditya ini seolah membawa kita seolah sedang melakukan perjalanan. Walaupun isi dari puisi yang mendasari lagu ini adalah mengenai kekecewaan terhadap kota Jakarta yang membuat si penyair merasa kecewa dan perlu meninggalkan Jakarta, tapi aransemen yang dibuat oleh Rhesa menciptakan ambience yang justru positif dan optimis. Simak potongan lirik/puisi lagu "Jakarta" dibawah ini:

"Kutinggalkan engkau
Sebab
Langitmu tak lagi biru
Diaduk asap dan debu
Aku sudah tak punya waktu
Untuk menunggu"

Nah anda akan mendapatkan kesan lain jika anda mendengarkan lagunya…:-)

Cinta & kerinduan adalah tema klasik yang tak pernah mati dimakan jaman. Tema ini lah yang paling banyak dipakai pada puisi maupun lirik lagu. Ekspresi kerinduan pada puisi pada puisi milik Siti Atmamiah yang berjudul "Ku Ingin" ini diinterpretasikan ulang dalam bentuk lagu oleh grup yang menamakan diri mereka sebagai Drew. Masih didominasi oleh riff gitar akustik yang ditingkahi oleh snare drum yang diketuk oleh brush stick plus bass gitar fretless yang dimaininkan oleh Rhesa Aditya, membuat lagu yang bersahaja ini jadi punya nyawa yang kuat. Lagu ini punya potensi untuk jadi idola di pasar.

Setiap seniman yang utuh dalam bentuk apapun ia akan selalu punya ciri dalam berkarya. Saya pikir statement ini bisa dilihat pada karya-karya musikalisasi puisi dalam album ini. Salah satu contoh yang kuat selain lagu "Pasar" gubahan Endah N Rhesa adalah lagu yang berjudul "Cemburu" yang didasari oleh puisi karya Irwan Dwi Kustanto yang pencipta dan arranger lagunya adalah Anindyo Baskoro atau lebih dikenal dengan Nino RAN. Ya, ia adalah salah satu personil trio yang sedang naik daun pada saat ini, RAN. Menyambung statement diawal paragraf diatas, kita tentunya tau bagaimana lagu-lagu dari RAN, dan pada lagu yang diciptakan oleh Nino berdasarkan puisinya Irwan ini, ciri RAN tersebut tidak hilang tapi bermetamorfosis dalam bentuk yang jauh lebih bersahaja, dengan balutan musik akustik ala Maxwell yang membuat para pendengar seperti saya merinding mendengarnya. Tentunya peran Raisa, yang bernyanyi bersama Nino tidak mengurangi keindahan lagu ini. Sangat menenangkan, walaupun sebenarnya liriknya menyiratkan kegundahan yang kental.

Pada lagu berikutnya yang berjudul "Luka Seorang lelaki" yang diambil dari puisi berjudul sama milik Irwan Dwi Kustanto. Saya mendengar nafas folk yang muncul pada duet Dody-Riqo dimana mereka juga betindak sebagai arranger dan pencipta lagunya. Gaya bermain gitar dan karakter vokal duo ini yang saya pikir membawa nafas folk yang bukan berarti lagu ini kekurangan nilai estetisnya tapi malah jadi kekuatan sinergi yang lumayan kuat.

Lagu "Sepi" yang diciptakan oleh Endah N Rhesa berdasarkan puisi karya Siti Atmamiah membawa kita ke lorong-lorong sunyi. Illustrasi pembacaan puisi oleh Maudy Koesnaedi dengan latar belakang suara enharmonik dari bass Rhesa terasa sangat dalam. Saya seolah sedang menonton sebuah trailer film yang bercerita tentang kesepian yang mendalam ketika mendengarkan lagu ini, dan saya yakin andapun demikian.

Cornelia Agatha….aktris yang sudah kita kenal berhasil membacakan puisi dengan sangat baik. Adalah puisi milik Irwan Dwi Kustanto yang berjudul "Angin Pun Berbisik" yang ia bawakan dengan penghayatan yang saya mesti acungkan jempol. Peranan Yessi Kristianto & Rhesa Aditya sebagai arranger pun punya andil yang cukup baik. Intro yang kuat lalu mulai masuk ke background ketika Lia mulai membaca puisi membuat ekspresi Lia ketika membacakan puisi jadi semakin kuat.

Lagu "Angin" yang dibawakan oleh Jodhy Yudono yang didasari oleh puisi karya Zeffa Yurihana juga dibawakan dengan gaya folk dari perspektif yang berbeda dibandingkan dengan duo Dody-Riqo. Judhy yang memainkan gitar diiringi oleh Choirul Alhuda yang memainkan violin & viola membawa kita ke suasana alam nan bersahaja. Jangan lupa oleh pembacaan puisi oleh si kecil Yoga Sukma Khalid Nan Agung yang diselipkan pada tengah lagu. Sangat syahdu dan bersahaja.

Album Musikalisasi "Angin Pun Berbisik" ini bisa saya kategorikan sebagai salah satu musikalisasi puisi yang berhasil memadukan dua ranah seni ini menjadi satu kesatuan yang cantik. Dahulu saya sempat terperangah ketika duo Ari & Reda membuat musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, nah kali ini kembali saya terperangah ketika mendengarkan album musikalisasi puisi ini. Terima kasih buat semua yang terlibat yang membuat puisi-puisi dalam album ini jadi bisa didengarkan oleh semua orang termasuk saya.

Cerita di balik album ini pun tak kalah menarik dan menyentuh kalau boleh saya bilang demikian. Dari mulai puisi-puisi yang dihadirkan adalah puisi pilihan dari buku antalogi puisi "ANGIN PUN BERBISIK". Karya Irwan Dwi Kustanto, Siti Atmamiah dan Zeffa. Pak Irwan adalah seorang tuna netra, sedangkan Ibu Siti dan Zeffa adalah istri dan anaknya yang bermata awas sampai dengan tekad menyumbangkan hasil penjualan seluruh CD ini pada 100% pada Yayasan Mitra Netra sebagai pendanaan buku Braille untuk tuna netra.

Saya iseng menanyakan bagaimana cara mendapatkan CD tersebut dan informasi yang saya dapatkan adalah:
CD musikalisasi puisi dapat Anda pesan melalui :

Yayasan Mitra Netra (021-7651386) (www.mitranetra.or.id)
dan HP nya Endah N Rhesa 08161443431 atau email di endahwidiastuti@yahoo.com
(datang ke Loca tiap Rabu malam, anda bisa bertemu dengan Endah N Rhesa di sana dan beli CDnya di mereka)

Well, jadi bila kita membeli CD ini selain kita mendapatkan lagu-lagu yang bagus, kitapun beramal.
Dikutip dari: http://www.bangwinet.com/tag/nino-ran/